“Mengapa siang terasa cepat berganti menjadi malam, dan benderang berubah menjadi kegelapan, sementara harapan-harapan ku masih mencari dan mengharapkan terang, akankah aku selalu berjalan meraba-raba pada malam tanpa bulan?’, tanyamu pada kata, saat gulita merekah dihadapan mu membawa senyuman derita. Tapi kata tak pernah menjawab, dan tanyamu tak dapat menghentikan itu, hari terus saja berjalan menuju malam, dan langit pun kau dapati telah menghamparkan renda-renda kegelapan.
Betapa kau benci pada gulita, rasa yang juga sama saat kau benci pada malam ini, pada malam-malammu yang lalu, ataupun pada malam-malammu yang esok. Malam yang hanya menyajikan hitam yang makin menjelma, kegelapan yang makin menganga. Malam yang telah menangguhkan mimpi-mimpimu tuk menjadi kenyataan, malam yang menjadikan kesepianmu makin sering menyapa dan kesunyianmu makin terasa. Tak ada yang dapat kau lakukan, tak ada yang dapat kau temukan., selain kebuntuan yang kini tumbuh subur dimana-mana. Kini setiap langkah yang kau jejakkan hanya berakhir pada janji-janji belaka. Kebencian pun makin menerobos masuk melalui celah-celah kulitmu, merambati dirimu, lalu diam di jiwamu, benci yang terlahir saat kau merasa terabaikan. Ataukah kau memang telah diabaikan ?. Inilah pada suatu waktu saat kau agungkan seluruh resah pada waktu-waktumu.
“Lalu, akankah hari-hariku yang penuh kegelapan kan melahirkan kebahagiaan, ataukah akan berakhir dalam sedu-sedan ?”, tanyamu pada sesuatu saat kau makin tenggelam dalam kekelaman.

aku suka malam…saat aku dapat terlelap dan meninggalkan segala penat..
melupakan segala resah…
aku suka malam…yang sunyinya menyerta ketenangan…
salam,
http://ilalangbasah.wordpress.com