Semua telah berlalu, riuh gemuruh berganti sepi, menyisakan aku disini, yang duduk termenung dalam kedukaan, diam dalam kesunyian, sendirian. Kutemukan dirimu diantara kaki-kaki yang berlalu meninggalkanmu. Kutemukan dirimu yang terabaikan di bawah, diantara puing-puing, diantara kepingan-kepingan, diantara serakan-serakan benda-benda yang tak utuh lagi. Hancur, pecah, berantakan oleh sebuah kekuatan yang tak bisa kita hindarkan. Tubuhmu tergenang, rupamu tersamar, tertutup oleh sebagian warna tanah yang melebur bersama air. Segera kurengkuh dirimu, kutarik perlahan dengan lembut, takut jika sesuatu kan mengoyak atau menghapus dirimu. Kucoba tuk keringkan dirimu, perlahan, sangat pelan, meniupnya dengan kehangatan, mencoba mengusir seluruh lembab yang dapat menjadikan warna dirimu memudar,. “Kau harus tetap berwarna”, teriak ku dalam hati, “karena hanya ini yang tersisa, hanya ini yang akan kupunya”.
Dan sisa waktu dari terang yang akan segera reda hanya kuhabiskan dengan memandangi dirimu, sepotong wajah yang tengah berada pada selembar gambar yang mengabur, tanpa sebuah bingkai, tanpa pembatas di tepi-tepi. Kecantikan memang telah menanggalkan wajahmu, berganti dengan lipatan-lipatan kulit yang telah keriput. Tapi lihatlah !, betapa keindahan itu masih bersinar gemilang, berhamburan, bertaburan lewat senyuman yang kau lepas saat ku abadikan dirimu seminggu yang lalu. Tak akan ada yang mampu menyamarkannya, tak akan ada yang mampu menghapusnya, keindahan itu tetap menjelma, meski kini matahari bersinar buram, hari berwajah suram dan awan-awan menebarkan kegelapan. Kau pergi tanpa meninggalkan sesuatu yang bisa kupeluk kembali, kecuali selembar foto ini. “Ahh…, aku akan benar-benar merindukanmu”, bisikku pada dirimu yang kini membisu.
Sepatah kata suci kan terus kulayangkan, tuk mengiringi dirimu yang kini sedang meniti tangga langit, bersama kebahagiaan dalam kemuliaan menuju keabadian. “Maaf…, ku tak dapat mencegah malaikat maut yang datang menjemputmu, tapi kuyakin kau kini tengah tersenyum di balik mega, bercanda, bergembira bersama para bidadari surga”.
Hening kemudian tercipta, menyisakan kepahitan yang kini kurasa.

yang tertinggal hanya gambarmu di meja kamarku
ditemani dua puisi tentang lara hati…(lagunya Katon (kl gk salah) ..atau…Kla…lupa)
perpisahan…
http://ilalangbasah.wordpress.com