Perputaran hari hanya menjadikan hidupmu penuh dengan kekosongan belaka, hasrat-hasrat sombongmu telah berubah menjadi puing-puing tajam yang selalu membuka tangis baru pada jalan yang telah basah oleh air mata. Sebuah nafsu telah mengenalkan pada dirimu bahwa bayang-bayang tak akan pernah menjadi nyata dan kenyataan tak seindah saat kau menengadah pada awan-awan, dan nafsu itu pula yang kini menuntunmu untuk meratap pada kematian. Jerat yang mengikat semakin menjauhkan kesempatan tuk menggapai tatapan yang telah kau lewati, tak mungkin semuanya untuk kembali karena tak pernah kau mampu untuk berlari melewati tangis. Dan tawa, semakin kelam untuk dipandangi. Kau tersiksa sekaligus menderita.
Atap itu, tempat kau menatap semua kilauan dan gemerlap, tempat kau menambatkan semua hasrat dan ambisi, tempat kau menatap rendah jiwa-jiwa yang hidup, hanya menjadikan dirimu sebagai budak lapuk yang makin tertunduk. Biru yang selalu kau kejar, kini hanya menjadikan mu hitam yang semakin kelam.
Perputaran hari hanya menjadikan hidupmu penuh dengan kekosongan belaka, hasrat-hasrat sombongmu telah berubah menjadi puing-puing tajam yang selalu membuka tangis baru pada jalan yang telah basah oleh air mata. Sebuah nafsu telah mengenalkan pada dirimu bahwa bayang-bayang tak akan pernah menjadi nyata dan kenyataan tak seindah saat kau menengadah pada awan-awan, dan nafsu itu pula yang kini menuntunmu untuk meratap pada kematian. Jerat yang mengikat semakin menjauhkan kesempatan tuk menggapai tatapan yang telah kau lewati, tak mungkin semuanya untuk kembali karena tak pernah kau mampu untuk berlari melewati tangis. Dan tawa, semakin kelam untuk dipandangi. Kau tersiksa sekaligus menderita.
Pagi yang selalu mendatangkan hidup baru tak mampu lagi kau lihat benihnya, tiada kesegaran yang kau rasakan, tiada keindahan yang dapat kau nikmati, semuanya tampak suram terhalang oleh pekat awan yang terus menghitam, kau terus benamkan mataharimu dalam hitamnya jurang penyesalan hati.
Dan malam yang menghampar selalu saja mengisi sudut-sudut sunyimu dengan duka, meneteskan perlahan tetesan lirih dari bongkahan jiwa yang mulai hancur meleleh dibakar luka, menggenangi terus ladang tawamu dan merubahnya menjadi telaga duka. Kau selalu sembunyikan wajah itu dibalik telapak tangan, derai air mata tak mampu lagi kau sembunyikan lewat senyuman, tangisan itu terus menitik dari ujung mata dan berakhir membentuk lautan derita, keheningan hanya membawamu semakin jauh menggapai bahagia.
Sinar lampu yang redup adalah tatapan jiwamu ketika sehelai kain yang membentang rapi menutupi ranjang itu berubah menjadi kusut, keringat yang mulai membasahi kulitmu adalah butiran-butiran penyesalan yang tak mengkin lagi kau tarik kembali, dan pejaman mata adalah tempat kau membunuh semua rasa yang kini kau alami. Hembusan nafas, jantung yang berdetak cepat hanyalah suara mati diantara ratapan bisu yang ikut meramaikan sudut sunyimu, kau terpaksa melayani nafsu meski tak pernah dapat kau nikmati. Dan diatas bongkahan daging yang menyaru pada tubuh, di dalam selimut kulit yang membalut halus, yang semestinya membawamu menikmati rintihan ke dalam puncak kenikmatan, akhirnya hanya kembali membawamu ke dalam lautan derita, malam penyerahan menjadi puncak semua penderitaan, kau telah diperkosa di puncak desahan.
Satu aturan telah merubah cintamu menjadi nafsu, kau telah terbeli oleh harga yang tak patut untuk dihargai, kegelapan hatimu menjadikan dirimu terpisah dari kebeningan hidup. Mimpi itu tak mampu lagi kau harapkan, tatapan sombong itu tak dapat lagi kau sombongkan, dan senyum itu tak dapat lagi kau banggakan, kau telah hancur dihajar rasa, terurai jatuh dalam luka yang makin menganga. Kau gagal menghayati arti cinta, tak dapat kau temukan makna cinta.

Aku suka caramu menyulam kata.