Kau kembali setelah sekian lama tak lagi menjejakkan kaki disini, melangkah masuk perlahan ke dalam suatu hamparan padang yang tak lagi dengarkan bunyi namun tampakannya tak berarti hadirkan sunyi Baca entri selengkapnya »
Kau kembali setelah sekian lama tak lagi menjejakkan kaki disini, melangkah masuk perlahan ke dalam suatu hamparan padang yang tak lagi dengarkan bunyi namun tampakannya tak berarti hadirkan sunyi Baca entri selengkapnya »
Satu kata, dua kata, satu kalimat, dua kalimat, satu paragraph, dua paragraf. Jarimu berhenti di ujung kata, di akhir tanda, titik. Kau amati, kau cermati, kau resapi seluruh barisan kata itu, “ahh…, bukan harus seperti ini “, gumammu. Lalu kau bawa jarimu pada kata dalam sebilah kotak, menekannya terus tanpa ragu, yang menjadikan dia kembali seperti semula, tanpa coretan, bersih, putih, dan hanya menyisakan satu garis hitam tegak lurus yang terus mengedip, perlahan-lahan, berulang-ulang.
Mengapa tak kau biarkan saja kegelapan itu menguasaimu, ketika suatu cahaya yang kau harapkan tak pernah datang menghampirimu ?. Bukankah kau telah sangat jengah melukiskan wajah hidup mu lewat apapun, yang ternyata tak pernah mampu memahami riuh gemuruh arena kata hatimu ?. Dan apa lagi yang dapat kau sombongkan ?, ketika kekuatan-kekuatan yang selama ini kau coba tuk jadikan terangmu menjelma, tak pernah bersinar nyata.
“Mengapa siang terasa cepat berganti menjadi malam, dan benderang berubah menjadi kegelapan, sementara harapan-harapan ku masih mencari dan mengharapkan terang, akankah aku selalu berjalan meraba-raba pada malam tanpa bulan?’, tanyamu pada kata, saat gulita merekah dihadapan mu membawa senyuman derita. Tapi kata tak pernah menjawab, dan tanyamu tak dapat menghentikan itu, hari terus saja berjalan menuju malam, dan langit pun kau dapati telah menghamparkan renda-renda kegelapan.
Semua telah berlalu, riuh gemuruh berganti sepi, menyisakan aku disini, yang duduk termenung dalam kedukaan, diam dalam kesunyian, sendirian. Baca entri selengkapnya »
Kau terdiam di sudut itu, pada malam dengan bulan dikejauhan, dan bintang yang bertebaran. Sendiri, mengurung diri, dalam sunyi. Sinar mulai padam seiring cahaya yang berlalu meninggalkanmu. Hitam lamat-lamat mendekapmu, dan gulita kini menguasai mu. Kau terpejam…. Seperti biasa, kau rebah pada sebuah hamparan dimana kau biasa melepas kemuraman, kau bebaskan semua kepenatan. Tak sengaja kau jejakkan langkah-langkah menuju khayalan, tempat dimana kau akan rasakan kenikmatan, tempat dimana kau dapat mencicipi keindahan, tempat dimana kau akan puas menjilati bayangan. Kebahagiaan mulai kau petakan, kemuliaan mulai kau datangkan. Kau mulai tersenyum, makin tersenyum dan berakhir pada sebuah tawa, saat seluruh bayang-bayang itu berhasil membawamu pada apa yang menjadi kehendakmu, pada apa yang menjadi mimpimu. Kau terbuai oleh apa yang kau saksikan.
Itulah kata pertama yang muncul, saat tanyaku tentang Dia berhamburan keluar dan berlari padanya.
Adalah seorang Fauz Noor yang membalikkan kembali tanyaku untukNya padaku…
PAS
Mataku merah
Diamku marah
Citaku bumi
Ciptaku hari
Tangisku hujan
Laguku bulan
Tanyaku Dia
Jawabnya aku
Ahh…, sekumpulan kata itu memaksaku untuk terus membuka seluruh pintu dan jendela jiwa dari hati yang kumiliki. Sebuah langkah panjang yang harus kususuri dengan perenungan yang dalam. Bukan hanya sekedar diam dan mempercayai, namun harus dibelah dengan kesadaran yang telah sadar.
Tanyaku Dia…
Jawabnya aku…
Komentar Terakhir