TAMASYA MEMBACA

29 04 2009

Kau kembali setelah sekian lama tak lagi menjejakkan kaki disini, melangkah masuk perlahan ke dalam suatu hamparan padang yang tak lagi dengarkan bunyi namun tampakannya tak berarti hadirkan sunyi Baca entri selengkapnya »





KATA YANG KOSONG

15 01 2009

Satu kata, dua kata, satu kalimat, dua kalimat, satu paragraph, dua paragraf. Jarimu berhenti di ujung kata, di akhir tanda, titik. Kau amati, kau cermati, kau resapi seluruh barisan kata itu, “ahh…, bukan harus seperti ini “, gumammu. Lalu kau bawa jarimu pada kata dalam sebilah kotak, menekannya terus tanpa ragu, yang menjadikan dia kembali seperti semula, tanpa coretan, bersih, putih, dan hanya menyisakan satu garis hitam tegak lurus yang terus mengedip, perlahan-lahan, berulang-ulang.

Baca entri selengkapnya »





KATA ENTAHLAH…

6 12 2008

Mengapa tak kau biarkan saja kegelapan itu menguasaimu, ketika suatu cahaya yang kau harapkan tak pernah datang menghampirimu ?. Bukankah kau telah sangat jengah melukiskan wajah hidup mu lewat apapun, yang ternyata tak pernah mampu memahami riuh gemuruh arena kata hatimu ?. Dan apa lagi yang dapat kau sombongkan ?, ketika kekuatan-kekuatan yang selama ini kau coba tuk jadikan terangmu menjelma, tak pernah bersinar nyata.

Baca entri selengkapnya »





KELAM

26 11 2008

“Mengapa siang terasa cepat berganti menjadi malam, dan benderang berubah menjadi kegelapan, sementara harapan-harapan ku masih mencari dan mengharapkan terang, akankah aku selalu berjalan meraba-raba pada malam tanpa bulan?’, tanyamu pada kata, saat gulita merekah dihadapan mu membawa senyuman derita. Tapi kata tak pernah menjawab, dan tanyamu tak dapat menghentikan itu, hari terus saja berjalan menuju malam, dan langit pun kau dapati telah menghamparkan renda-renda kegelapan.

Betapa kau benci pada gulita, rasa yang juga sama saat kau benci pada malam ini, pada malam-malammu yang lalu, ataupun pada malam-malammu yang esok. Malam yang hanya menyajikan hitam yang makin menjelma, kegelapan yang makin menganga. Malam yang telah menangguhkan mimpi-mimpimu tuk menjadi kenyataan, malam yang menjadikan kesepianmu makin sering menyapa dan kesunyianmu makin terasa. Tak ada yang dapat kau lakukan, tak ada yang dapat kau temukan., selain kebuntuan yang kini tumbuh subur dimana-mana. Kini setiap langkah yang kau jejakkan hanya berakhir pada janji-janji belaka. Kebencian pun makin menerobos masuk melalui celah-celah kulitmu, merambati dirimu, lalu diam di jiwamu, benci yang terlahir saat kau merasa terabaikan. Ataukah kau memang telah diabaikan ?. Inilah pada suatu waktu saat kau agungkan seluruh resah pada waktu-waktumu.

“Lalu, akankah hari-hariku yang penuh kegelapan kan melahirkan kebahagiaan, ataukah akan berakhir dalam sedu-sedan ?”, tanyamu pada sesuatu saat kau makin tenggelam dalam kekelaman.





YANG TERSISA

20 11 2008

Semua telah berlalu, riuh gemuruh berganti sepi, menyisakan aku disini, yang duduk termenung dalam kedukaan, diam dalam kesunyian, sendirian. Kutemukan dirimu diantara kaki-kaki yang berlalu meninggalkanmu. Kutemukan dirimu yang terabaikan di bawah, diantara puing-puing, diantara kepingan-kepingan, diantara serakan-serakan benda-benda yang tak utuh lagi. Hancur, pecah, berantakan oleh sebuah kekuatan yang tak bisa kita hindarkan. Tubuhmu tergenang, rupamu tersamar, tertutup oleh sebagian warna tanah yang melebur bersama air. Segera kurengkuh dirimu, kutarik perlahan dengan lembut, takut jika sesuatu kan mengoyak atau menghapus dirimu. Kucoba tuk keringkan dirimu, perlahan, sangat pelan, meniupnya dengan kehangatan, mencoba mengusir seluruh lembab yang dapat menjadikan warna dirimu memudar,. “Kau harus tetap berwarna”, teriak ku dalam hati, “karena hanya ini yang tersisa, hanya ini yang akan kupunya”.

Dan sisa waktu dari terang yang akan segera reda hanya kuhabiskan dengan memandangi dirimu, sepotong wajah yang tengah berada pada selembar gambar yang mengabur, tanpa sebuah bingkai, tanpa pembatas di tepi-tepi. Kecantikan memang telah menanggalkan wajahmu, berganti dengan lipatan-lipatan kulit yang telah keriput. Tapi lihatlah !, betapa keindahan itu masih bersinar gemilang, berhamburan, bertaburan lewat senyuman yang kau lepas saat ku abadikan dirimu seminggu yang lalu. Tak akan ada yang mampu menyamarkannya, tak akan ada yang mampu menghapusnya, keindahan itu tetap menjelma, meski kini matahari bersinar buram, hari berwajah suram dan awan-awan menebarkan kegelapan. Kau pergi tanpa meninggalkan sesuatu yang bisa kupeluk kembali, kecuali selembar foto ini. “Ahh…, aku akan benar-benar merindukanmu”, bisikku pada dirimu yang kini membisu.

Sepatah kata suci kan terus kulayangkan, tuk mengiringi dirimu yang kini sedang meniti tangga langit, bersama kebahagiaan dalam kemuliaan menuju keabadian. “Maaf…, ku tak dapat mencegah malaikat maut yang datang menjemputmu, tapi kuyakin kau kini tengah tersenyum di balik mega, bercanda, bergembira bersama para bidadari surga”.

Hening kemudian tercipta, menyisakan kepahitan yang kini kurasa.